Bank Indonesia menempatkan stabilitas ekonomi sebagai prioritas ketika suku bunga global masih berada pada level tinggi. Kondisi higher for longer dapat memengaruhi nilai tukar, arus modal, biaya pembiayaan, dan keputusan investasi perusahaan.
Nilai Tukar Menjadi Perhatian
Bank sentral perlu menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi. Ketika dolar AS menguat, tekanan terhadap mata uang negara berkembang dapat meningkat karena investor cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman.
Stabilitas rupiah penting bukan hanya bagi pasar keuangan. Perubahan nilai tukar juga dapat memengaruhi biaya impor, bahan baku industri, serta harga sejumlah produk yang memiliki komponen dari luar negeri.
Sektor Riil Tetap Perlu Didukung
Di tengah fokus menjaga stabilitas, pertumbuhan ekonomi tetap menjadi perhatian. Dunia usaha membutuhkan kondisi pembiayaan yang dapat mendukung ekspansi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan kapasitas produksi.
Kebijakan moneter karena itu harus mempertimbangkan dua kepentingan. Stabilitas tidak boleh diabaikan, tetapi ruang bagi sektor riil untuk tumbuh juga perlu dijaga agar konsumsi dan investasi tetap bergerak.
Risiko Eksternal Masih Besar
Perubahan kebijakan bank sentral negara maju, ketegangan geopolitik, dan pergerakan harga komoditas dapat mengubah sentimen investor dengan cepat. Indonesia perlu memperkuat fundamental domestik agar tidak terlalu rentan terhadap perubahan tersebut.
Cadangan devisa, surplus perdagangan, pasar domestik yang besar, dan kebijakan makroprudensial menjadi bagian dari bantalan yang dapat membantu menghadapi gejolak.
Kesimpulan
Pesan BI pada awal Oktober menunjukkan bahwa stabilitas tetap menjadi fondasi pertumbuhan. Bagi masyarakat dan pelaku usaha, perkembangan suku bunga global dan nilai tukar perlu menjadi bagian dari pertimbangan dalam mengambil keputusan keuangan.
Sumber: Bank Indonesia/ANTARA, 2 Oktober 2026.




