Asosiasi Asuransi Umum Indonesia memperkirakan segmen asuransi kendaraan bermotor masih memiliki peluang pertumbuhan hingga akhir 2026. Pada kuartal II, premi kendaraan tercatat tumbuh 4,9 persen secara tahunan menjadi Rp9,85 triliun.
Penjualan Kendaraan Menjadi Penopang
Pertumbuhan industri otomotif dapat memperluas basis nasabah asuransi kendaraan. Semakin banyak kendaraan yang beredar, semakin besar pula kebutuhan terhadap perlindungan risiko kecelakaan, kerusakan, dan kehilangan sesuai cakupan polis.
Namun, pertumbuhan premi tetap bergantung pada daya beli masyarakat. Ketidakpastian ekonomi dapat membuat konsumen lebih selektif dalam memilih perlindungan dan menilai kembali biaya kepemilikan kendaraan.
Perusahaan Perlu Menjaga Kualitas
Persaingan industri asuransi tidak hanya ditentukan oleh harga premi. Kecepatan klaim, jaringan bengkel, kualitas layanan, serta kejelasan ketentuan polis menjadi faktor penting dalam pengalaman nasabah.
Digitalisasi dapat membantu proses klaim dan administrasi. Teknologi memungkinkan laporan kerusakan dilakukan lebih cepat dan membantu perusahaan memproses data secara lebih efisien.
Risiko Pasar Tetap Ada
Penjualan kendaraan yang positif belum otomatis menjamin pertumbuhan premi sepanjang tahun. Perubahan daya beli, harga kendaraan, biaya suku cadang, serta tingkat kecelakaan dapat memengaruhi hasil industri.
Karena itu, perusahaan perlu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan premi dan kualitas underwriting agar portofolio tetap sehat.
Kesimpulan
Prospek pertumbuhan asuransi kendaraan hingga akhir 2026 masih terbuka. Pertumbuhan otomotif menjadi peluang, sementara kualitas layanan dan kemampuan membaca risiko akan menentukan keberlanjutan pertumbuhan.
Sumber: Kontan, 20 Oktober 2026.




